Institut Teknologi Bandung (ITB) patut berbangga hati. Pasalnya, salah seorang alumni Aeronotika dan Astronotika ITB mendapat penghargaan dari orang nomor satu di Inggris, Queen Elizabeth II.
Dia adalah Asmayani Tjokronegoro. Alumni lulusan tahun 2000 tersebut memperoleh reputasi tingkat dunia dalam bidang keselamatan transportasi.
Bertempat di Istana Buckingham, Inggris pada 24 Februari lalu, Yani, begitu dia biasa disapa, mendapat penghargaan atas dedikasi kerjanya di bidang Keselamatan Penerbangan.
Penghargaan ini diterima Yani bersama timnya berdasarkan karya mereka menyusun sebuah sistem perencanaan keselamatan penerbangan yang dianggap paling baik di Inggris.
Setelah lulus dari ITB, Yani memulai kariernya di Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebagai penyelidik keselamatan udara.
Sejak kuliah, Yani memang telah tertarik pada bidang Keselamatan Penerbangan. Banyaknya kecelakaan penerbangan yang disebabkan oleh faktor kesalahan manusia membuat Yani lebih memfokuskan studinya pada human factor.
Dia pun berpartisipasi dalam banyak penyelidikan kecelakaan maupun insiden penerbangan, dan turut serta mengembangkan KNKT.
Setelah menimba pengalaman selama empat tahun di KNKT, Yani pindah ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Cranfield. Dengan perolehan penghargaan “Course Director’s Most Outstanding Student”, Yani lulus dan memperoleh gelar masternya dalam bidang Human Factors and Safety Assessment in Aeronautics dari Universitas Cranfield.
Universitas Cranfield merupakan universitas yang berhasil memperoleh penghargaan terhormat “Queen’s Anniversary Prize for Higher Education”, setelah bersaing dengan 18 universitas dan tiga institusi perguruan tinggi lainnya.
Universitas ini dianugerahi penghargaan sebagai pionir dunia dalam mengembangkan keselamatan penerbangan melalui riset dan pelatihan dalam investigasi kecelakaan udara.
Selama melanjutkan studinya, Yani juga bekerja sebagai konsultan sebuah perusahaan riset keselamatan penerbangan.
Dalam masa tersebut, Yani terlibat dalam banyak proyek riset penting dengan spesialisasi bidang kebakaran, keselamatan kabin, dan analisis kecelakaan untuk berbagai badan penerbangan penting.
Tidak hanya itu, dia juga menjadi manajer proyek sebuah riset kebutuhan keselamatan kabin dalam pelatihan pemadaman kebakaran untuk awak kabin.
Saat ini, dia bekerja sebagai pengajar di Departemen Transportasi Udara Cranfield. Departemen tersebut merupakan tempat di mana Pusat Investigasi Keselamatan dan Kecelakaan melakukan pengembangan dalam pekerjaan keselamatan penerbangan.
Sumber: okezone.com

Siapa bilang putra Indonesia tidak mampu menciptakan teknologi perang, seperti produksi Amerika Serikat atau negara maju lainnya.
Masih ingatkah anda akan drama pengepungan rumah oleh tim Densus 88 yang diyakini sebagai tempat persembunyian teroris di Dusun Beji, Temanggung, Jawa Tengah?
Pembuatan kapal perang merupakan prioritas dalam program pertahanan nasional. Program ini merupakan bagian dari upaya peremajaan dan peningkatan armada kapal perang Indonesia. TNI AL masih membutuhkan sedikitnya 151 kapal perang dari berbagai kelas dan jenis.
Salah satu putra bangsa Indonesia kembali menorehkan tinta emas di dunia internasional, khususnya di bidang sains & teknologi.

Bangsa Indonesia, khususnya yang berkecimpung di bidang kedokteran, patut berbangga atas terpilihnya 